Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2015

Perjalanan Hijrahku :-)



Pejalanan Hijrahku 

Seperti kupu-kupu yang membutuhkan proses panjang ketika ingin berubah menjadi  makhluk yang indah.

Bahkan kupu-kupu indah itu dahulunya adalah ulat yang menggelikan.Itu semua adalah bukti kekuasaan Allah. Dan begitu adilnya Allah bahwa dibalik kekurangan, pasti ada kelebihan, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, di balik masa lalu yang buruk, bukan berarti masa depan itu pun buruk.

Berbicara tentang masa lalu, yaa memang masa lalu tidaklah dapat dirubah, hanya bisa untuk dikenang, dan diabil hikmah dari segala yang telah terjadi namun tidak untuk disesali.Mungkin memang masa laluku buruk.Tapi aku tetap bersyukur Allah masih memberikan aku kesempatan untuk menjemput hidayah untuk berhijrah menjadi lebih baik lagi. Aku akan menceritakan sepenggal pengalamanku saat berhijrah. Berbagi kepada teman semua, semoga bisa memotivasi dan bermanfaat nantinya.

S==>Saat ku memutuskan untuk berhijab syar’i

Hijab?

Sebelumnya aku tidak tahu apa itu Hijab?, yang aku tahu hanya wanita itu wajib menutup aurat. Yaaa pakai baju panjang, pake rok/celana panjang trus pake kerudung.Sekedar seperti itu aja. Dari SD aku memang sudah pakai kerudung kalau pergi main ke rumah temen yang agak jauh, kalau sekedar di rumah tetangga yaa tidak menutup aurat  masih pakai baju dan celana pendek.Saat SMP dan SMK pun masih seperti itu.Dan berakhir ketika kelas 3 SMK, pada saat ada acara di sekolah “Pesantren Kilat” di bulan Ramadhan, acara tersebut diisi oleh kakak-kakak dari MHTI Banjar.

Pada acara tersebut dijelaskan secara detail tentang hijab, dan wanita yang sudah baligh itu wajib menutup auratnya secara sempurna sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah yakni menggunakan jilbab (baju gamis longgar [QS. Al-Ahzab:59]) dan khimar (kerudung [QS. An-Nur:31])

salah satu hadits yang begitu ku ingat adalah :
“Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu menuju neraka…” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Yaa Allah, apa yang telah ku perbuat selama ini, mungkin berlangkah-langkah aku keluar rumah tanpa menutup aurat. Secara tidak langsung aku telah menjerumuskan ayahku sendiri ke neraka.Tapi terimakasih yaa Allah karena Engkau memberikan kesempatan untukku memperbaikinya.

Memang sulit, awal-awal untuk berhijrah, mulai dari keluarga yang menganggapku aneh karena tiba2 mengobrak-abrik lemari mencari pakaian ibuku yang berbentuk jilbab atau daster untuk ku pakai. Kerudung paris aku tumpuk2 biar tidak terlihat transparan. Dan ternyata kaki juga termasuk aurat hingga harus ditutupi dengan memakai kaos kaki.Kendala tersulit itu ada pada diri,karena masih kaget dengan tsaqofah yang baru didapat, dan harus dilakukan karena kewajiban muslim. Untuk membiasakan diri itu yang sulit semua itu butuh proses. Dan aku pun dulu ketika baru mengetahui tidak langsung berubah secara total, perubahan itu terjadi sedikit demi sedikit, mulai dari yang tadinya menggunakan celana menjadi menggunakan rok, yang tadinya pergi main tak memakai kaos kaki, menjadi memakai kaos kaki, yang tadinya berkerudung punuk unta, diturunkan sedikit demi sedikit. Dan proses itu terjadi begitu lama. Alhamdulillah Allah masih menyayangiku dengan mengenalkan aku dengan kakak-kakak dari MHTI yang mau membimbingku hingga dapat berhijab secara sempurna sesuai yang Allah perintahkan.

S====>Saatku Memutuskan untuk Berhijrah menjadi Jomblo Mulia

Pacaran itu haram, dalam Islam tidak ada Pacaran?

DEGG!!! Ketika mendengar mengenai materi tentang masalah cinta ini, aku bingung.menurutku ini masalah yang tersulit karena mengenai perasaan. Sulit karena pada saat itu aku tengah menjalani aktivitas yang haram itu.Pada saat mendapat materi ini, aku bener2 bingung bagaimana memulai berbicara dengannya.Sudah diberi tahu solusinya, tapi hati benar2 sulit menerimanya.Aku lupa bagaimana kisah detailnya. Kurasa aku benar-benar bilang putus, tapi hubungannya tetap sama. setelah acara pesantren kilat selesai selama seminggu, kita ditanya siapa yang akan lancut mengaji. Dan aku salah satu yang memutuskan untuk lanjut mengaji.Yaa selama mengaji bersama MHTI ini, aku semakin mengerti tentang Islam.Tapi apakah kalian tahu, aku masih pacaran pada saat itu, sulit sekali terlepas dari hubungan ini. Jadi disatu sisi aku tetap mengaji disisi lain aku tetap bermaksiat. 

Hatiku benar-benar tak tenang pada saat itu.Harus memilih salah satu, mau maksiat-maksiat sekalian.Mau berubah harus berubah sekalian menyeluruh, jangan setengah-setengah.
Tapi akhirnya aku memutuskan untuk putus, pertama yang kulakukan hapus nomor hp.y walaupun percuma karena ku sudah hapal nomornya.Yang kedua yang kulakukan minta pengertian dia, bahwa aku ingin berubah menjadi wanita sholihah, jadi minta bantuan dia untuk tidak menghubungiku lagi dan berkata padanya untuk saling menguji kesetiaan. Jika kamu benar-benar mencintaiku, maka kamu pun akan berubah dan memperbaiki diri lalu akan memintaku pada orang tuaku ketika telah siap untuk ke jenjang yang lebih serius yang dihalalkan Allah pernikahan.

Kalian tahu, aku berbicara seperti itu, itu sakit banget, aku yang sudah terbiasa komunikasi dengannya, tiada hari tanpa sms atau telefon dari dia. Tapi aku berfikir lagi bahwa aku melakukan ini untuk kebaikan kita berdua, untuk menjaga diri kita berdua, untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Bukankah Lebih  baikMeninggalkan sesuatu karena-Nya daripada meninggalkan-Nya karena sesuatu.

Dia adalah mantan pertamaku, kami menproklamasikan hubungan haram itu kelas 1 SMK semester ke 2, dan berakhir karena aku memutuskan untuk berhijrah kelas 3 SMK semester dua kayanya, hubungan ini sudah terjalin 2 tahun lebih, just having fun. Yaa Allah betapa banyak dosa yang telah ku tumpuk dengannya karena hubungan haram itu.Dia itu temen sekolahku, sekelas bahkan. Bisa dibayangkan bagaimana proses move on bisa berhasil ketika setiap hari bertemu di kelas. Tapi akhirnya bulan Mei kayanya dia pergi karena di panggil bekerja disebuah perusahaan di Tangerang, sambil menunggu ijazah keluar.Alhamdulillah tidak bertemu lagi, tapi sakit juga karena tiada lagi sosok yang ku lirik2 lagi.Aku memang berbicara kepadanya untuk tidak menghubungiku lagi, tapi aku berharap dia tak menurutinya karena aku menunggu dia sms atau telfon aku, sepi sekali rasanya.Berkali-kali aku menyadarkan diriku, berkali-kali pula hatiku berontak sakit sekali. Aku berusaha menyibukkan diri, dengan membaca buku, membantu nenek, melakukan hal apapun yang terpenting jangan biarkan aku sendiri dan melamun karena akan mengakibatkan aku kepikiran lagi padanya.

Ketika acara perpisahan sekolah bulan Juni akhir,ku dengar dia pulang dari Tangerang dan pastinya aku kembali bertemu dengannya, aku merasa belum siap karena perasaan itu belum sepenuhnya netral walau sudah 2 bulan aku tak bertemu dengannya.Pada saat acara perpisahan itu, ya aku dan dia hanya diem-dieman, hanya memandanginya dari jauh. Aku sudah berhijab, ketika perpisahan teman-temanku menggunakan kebaya dan bermake up  cantik-cantik hanya aku sendiri yang menggunakan jilbab dan kerudung lebar. Teman-temanku yang dulu awal ikut berhijrah satu persatu gugur.Malu rasanya ketika aku sudah berhijab namun hatiku masih berzina dengan berangan-angan tentangnya.Ku ingatkan kembali pada diriku bahwa aku berhijab karena wajib, karena Allah yang memerintahkan, untuk masalah hati dan akhlak itu murni karena kesalahanku karena belum bisa mengendalikannya.Tiba-tiba dia mendatangiku dan menanyakan kabarku. Yaa Allah apa yang harus aku lakukan hatiku bergemuruh tak jelas. Ku tarik nafas dan berusaha bersikap biasa saja.Ku jawab biasa dan bertanya balik, terjadi komunikasi singkat.Dan dia meminta untuk berfoto bersama, aku bingung namun aku mengiyakan dan aku tarik salah satu temenku untuk ikut jadi tidak berfoto berdua melainkan bertiga.Terlihat kecewa di wajahnya, aku hanya berkata maaf dalam hati.

Hari itu adalah hari pertama dan terakhir setelah 2 bulan tak bertemu, karena esoknya aku pergi ke Magelang untuk bekerja.Aku berharap disana, karena suasana baru aku dapat melupakannya. Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapan. Dia jadi sering menghubungiku, dan aku tak tegas aku pun masih meresponnya.Itu terjadi kisaran seminggu, aku kembali bicara padanya untuk stop menghubungiku.Dan iya mengiyakan lagi.

Setelah sekian lama hampir satu bulan tak mendengar kabarnya.Tiba-tiba ada salah satu temenku sms padaku.Menanyakan dia padaku, aku jawab bahwa aku sudah tak bersamanya lagi dan tak tahu kabarnya. Dan temenku mengatakan pantas saja sekarang dia tengah dekat dengan wanita lain, yang tak lain adalah adik kelasku. DEGG!!! Bagai tersambarpetir di siang bolong, sakit sekali rasanya. Tiada berhenti menangis, saat bekerja pun menjadi tak konsentrasi. Akhirnya aku memutuskan menanyakan langsung padanya.Namun dia mengaku hanya berteman saja, saat ku tanyakan pada adik kelasku itu, memberikan jawaban yang ambigu.Kenapa semuanya seolah-olah mempermainkan perasaan aku.Semua temanku mengatakan bahwa dia memang telah jadian dengan adik kelasku itu, bahkan saat aku stalking FB dia, statusnya pun seperti tengah jatuh cinta.Tambah sakit hatiku, ku beranikan menanyakan lagi padanya, namun dia tetap mengelak dan bicara bahwa dia hanya menganggapnya sebagai adik saja.Ku bingung pada saat itu, antara mempercayai temanku atau dia. Namun akhirnya aku luluh oleh bujuk rayu dia, aku percaya perkataan dia daripada semua teman-temanku.Yah nafsu telah membutakanku, aku tak menyalahkan cinta karena cinta tak pernah salah.Yang salah adalah orang yang menyalahgunakan cinta itu.

Dan kami pun kembali dekat lagi, smsan juga telfonan kembali terjalin, yahh nafsu tak ingin kehilangan dia begitu menguasaiku, hingga aku begitu mengabaikan orang-orang disekitarku.Bahkan sepertinya aku juga telah lupa bahwa Allah selalu mengawasiku.Yaa Allah Ampuni aku.

Bulan September aku mulai kembali ngaji bersama MHTI Magelang, setelah 2 bulan lebih aku tak mengaji, kering hatiku tak pernah di changer tsaqofah dan keimanan. Setelah mulai aktif kembali mengaji, aku pun akhirnya untuk saat ini benar-benar tegas padanya,aku pun tak ingin mengulangi kejadian saat di Banjar dengan mengaji dibarengi bermaksiat. Kunyatakan putus, aku hapus semua memori tentangnya, aku remove FB dia. Apapun yang terjadi nantinya, entah dengan siapa nantinya dia bergaul semoga dapat merubahnya menjadi lebih baik. Ku hanya bisa berdoa untuknya semoga selalu memberikan hal yang terbaik untuknya.Sakit memang sakit, tapi aku lakukan ini, karena aku ingin istiqomah, tidak menjadi orang yang plin plan walau ku tahu itu sulit bagiku.

Seiring berjalannya waktu, lambat laun aku pun mulai terbiasa tanpanya, sudah sering ku sakit hati karenanya, sudah banyak air mata yang ku keluarkan karenanya.Dan ternyata benar bahwa dia telah menjalin hubungan dengan wanita lain. Ku fokuskan diriku untuk mulai mengkaji Islam.Tapi syetan selalu pandai merayu manusia untuk terjebak dalam perangkapnya.Yahhh saat aku sudah mulai tenang dengan kesendirianku.Tiba-tiba hatiku diguncangkan oleh seseorang yang membuatku begitu mengaguminya karena kebaikannya, tutur katanya, seseorang yang lebih sering menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan wanita.Yaah awalnya hanya sekedar kagum saja, tapi entah kenapa lambat laun ada yang aneh, temanku sering menceritakan tentangnya dan itu membuatku senang, hingga membuat semakin penasaran padanya. 

Berbekal dari nama panggilan dia dan asal kota dia, ku coba mencari FB nya. Ada salah satu nama FB yang membuatku penasaran, ku buka kronologinya dan ku lihat status-statusnya. Status-statusnya islami, ku yakin ini FB dia , namun pada saat itu, aku tak bisa menjadikannya teman karena tak bisa di add. Semenjak aku tahu FB itu, aku pun jadi sering stalking, baca-baca statusnya. Suatu ketika FB itu pun bisa dijadikan teman, tanpa piker panjang aku pun add FB itu. Selang beberapa hari FB ku pun di konfirmasi olehnya.Dan pada suatu saat aku baca status dia yang terdapat komentar aku baca tuh komentarnya itu, disana memberitahukan tentang dimana dia bekerja pada teman yang komentar.Dan aku pernah denger dari temenku bahwa si dia bekerja disana. TARRAA!!! Ternyata selama ini aku nggak salah stalking FB orang.

Semakin lama, perasaanku semakin aneh padahal kami tak pernah mengobrol.Ketika dia datang ke tempat kerjaku untuk menemui temannya, aku pun semakin sulit mengendalikan diriku untuk tidak salah tingkah. Mungkin dia menyadari apa yang terjadi pada diriku, atau mungkin teman tempatku bekerja cerita tentangku padanya bahwa kemungkinan aku ada perasaan lain padanya. Hingga dari bulan Desember, aku tak pernah lagi bertemu dengannya, ketika dia ingin menemui temanku sepertinya janjian di tempat lain. Dia yang biasanya main ke rumah atau ke tempat kerja, namun mulai bulan Desember tidak pernah lagi, main ke rumah pun ketika aku tidak ada di rumah.Aku tersenyum ketika memikirkan itu semua.Yahh itu tandanya bahwa dia tidak ingin membuatku berharap lebih padanya.Aku mengerti, dia memang sosok yang baik menurutku.( temenku kerjaku itu suami istri, dan aku juga tinggal di Mes tempat bekerja bersama mereka )

Bulan Februari, akhirnya aku di pindah tempat kerja ke Kebumen. Allah seakan-akan mengerti bahwa aku tengah berusaha untuk menetralkan perasaan ini, hingga aku pun di jauhkan dengannya secara tidak langsung.Rencana-Mu memang Indah yaa Allah.

Darinya aku banyak belajar secara tidak langsung.Mulai saat ini aku memutuskan untuk istiqomah.Aku ingat cerita Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha.

“ Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, semakin jauh Yusuf darinya. Namun ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf padanya.”

Biarlah ku pendam saja perasaan ini, Biarlah hanya Aku dan Allah saja yang tahu aku masih menyimpan rasa itu atau tidak.Yaah sekarang hatiku tenang, semua harapanku hanya ku tujukan pada Allah. Masih ku ingat nasihat dari Imam syafi’I yang berbunyi :

“ Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” ( Imam Syafi’i)

Teguran lagi dari Allah, Terimakasih yaa Allah untuk segala nikmat yang telah Engkau beri.Terimakasih karena masih memberikanku kesempatan untuk berubah yang lebih baik lagi.Untuk saat ini, ku sibukkan diriku untuk memikirkan umat, sangat egois rasanya jika hanya memikirkan tentangku dan tentangnya.Aku masih perlu banyak belajar, tentang Islam dan berdakwah Islam.

Perkara mencari pendamping hidup pun ingin ku lakukan dengan hal yang sesuai aturan Islam.Bukan dengan pacaran yang jelas-jelas bukan berasal dari Islam.Kini aku menikmati hidupku menjadi Jomblo Mulia, takkan galau lagi ketika sendiri.Karena sesungguhnya aku memang tak sendiri ada Malaikat Rakib dan Atid yang mencatat segala amal perbuatanku.Dan yang lebih pasti ada Allah yang selalu mengawasiku. 

#IndahnyaMenikahTanpaPacaran

By : Ana Dia Friska

Jumat, 09 Oktober 2015

Tentang Akidah

Ini adalah cerita fiksi, khayalan, semoga terdapat manfaat di dalamnya.

Setiap hari sabtu malam minggu, sudah menjadi jadwal dari Ibu 2 anak ini untuk bercerita. Yah sudah menjadi kebiasaan keluarga, untuk berkumpul keluarga. Hal yang diceritakan pun bukanlah cerita dongeng khayalan seperti pinokio, spiderman, supermen, atau yang lainnya. Melainkan cerita tentang sejarah Islam, tentang para pejuang-pejuang Islam yang gagah, hal itu dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta anak-anaknya terhadap Islam.

“Ibu, hari ini Ibu akan bercerita tentang siapa lagi, Muhammad al-Fatih lagi kah?” ucap sang kakak, anak pertamanya.

“Hari ini Ibu, tidak akan bercerita tentang Pejuang Islam yaa,, melainkan tentang akidah.”

“Yaahhh... sepertinya tak menarik “ dengan wajah menunduk, sang bungsu pun berucap.

“Anak-anak Ibu yang pintar-pintar ini tau tidak, kita itu darimana? Ngapain coba kita di dunia ini? Dan akan kemana setelah ini?” tanya sang Ibu terhadap anak-anaknya yang sedang cemberut itu.

Namun tak ada respon dari sang anak. Dengan tersenyum sang Ibu kembali berkata

“Yaa udah, Ibu mau cerita... dengerin yaaa.. “

“ Pada suatu hari, ada 2 orang pendaki gunung, yang satu orang Islam seperti kita, yang satu lagi orang bukan islam atau seseorang yang nggak percaya akan adanya Allah”

“Emang ada yah bu” tanya sang bungsu

“Ada, sampai saat ini juga ada, ibu lanjutin yaa...
Dalam perjalanan mendaki gunung, mereka berdua bercakap-cakap, mengenai Tuhan.
  • Orang yang bukan Islam : “ Aku, tak percaya adanya Tuhan, segala sesuatu pasti ada dengan sendirinya, kayak main sulap “'Cling'” datang dan pergi.
  • Orang yang Islam : Segala sesuatu pasti ada yang menciptakannya.

Pada saat sampai di puncak, mereka berdua lihat ada kapal gede banget di puncak gunung itu.

Sang atheis (Orang yang tidak percaya adanya tuhan) Kaget, dan berkata : “ Kok Bisa ada kapal segede ini, di puncak gunung? Pasti ada yang membawanya kesini.!”
Nah orang Islamnya menjawab : “Apa sekarang kamu sudah percaya bahwa segala sesuatu itu ada yang menciptakannya? Buktinya kapal ini, kamu percaya bahwa kapal tidak akan bisa sampai disini dengan sendirinya. Pasti ada yang membawanya. Begitu juga manusia. Ia tidak akan sampai disini kecuali karena ada yang membawanya sampai disini. Itulah Allah, Sang Pencipta kita.”

Sekarang Ibu tanya sama anak-anak ibu yang pinter ini. Sudah percaya belum kalau kita disini karena ada Allah yang menciptakan kita.?

“Sudah Ibu...” Jawab sang anak serempak.

Nah Ibu mau tanya lagi nih, kemarin itu Ibu beliin kakak sama adek puzle yaa, punya kakak puzzlenya hewan Gajah, punya adek puzzlenya hewan sapi. Iyaa kan ?
“ Iyaa bu, padahal dede pengennya puzlenya itu singa, ibu beliinnya palah sapi” celetuk sang adik, dengan wajah yang menggemaskan karena kesal.

“Alhamdulillah lho dek, udah ibu beliin, belajar bersyukur yaa... kembali kepokok pembahasan.. Nah Kemarin itu ibu beliin kakak sama adek bentuk puzzle yang berbeda, sudah ada buku panduannya masing – masing yaa. Kalo seandainya buku panduannya tertukar bisa nggk dikerjain itu puzzlenya? Tentu saja tidak akan bisa, karena nggk sesuai aturannya.

Begitu pula manusia nak, Allah menciptakan manusia sepaket dengan aturannya yakni al-Quran dan Sunnah. Apabila manusia berjalan sesuai dengan aturannya maka akan selamat dunia akhirat. Namun jika tidak sesuai pasti kehidupannya akan sempit dan menderita nak.

Contoh lain yaa, Ibu punya sebuah Hp, Ibu bisa menggunakan Hp itu karena ada buku panduannya. Coba kalo seandainya Ibu salah membaca buku panduan, misal Ibu palah membaca buka panduan mesin cuci untuk menggunakan Hp itu. Nyambung nggk? Jika tetap digunakan dengan buku panduan yang salah. Pasti Hp Ibu akan rusak. Iyaa Nggak?

Sekarang Kakak sama Adek sudah mengerti kan? Kalo kita hidup di dunia ini harus sesuai syariat atau aturan yang Allah berikan. Harus bisa menempatkannya dalam setiap aktivitas yang dilakukan setiap hari. Karena setiap apa yang kita lakukan selalu dicatat oleh malaikat, dan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

Nah kembali ke pertanyaan awal, Kita itu dari mana? Untuk apa disini? Dan akan kemana nantinya?

“Kakak berusaha menjawab yah bu,” ucap sang kakak, sang Ibu tersenyum sambil mengangguk.

“Kita itu berasal dari Allah, karena Allah yang menciptakan kita. Dan kita disini itu di dunia ini diperintahkan untuk beribadah kepada Allah, menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan Allah. Dan setelah ini kita akan kembali kepada Allah, kita nanti juga akan di hisab atau dimintai pertanggung jawabban atas apa yang kita lakukan di dunia ini. Benar kan Bu” Ucap sang kakak, panjang lebar.

“Tepat sekali nak, Jadi mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati dalam bertindak, harus memikirkan kembali, dan mengaitkannya dengan aturan Allah. Jika kita akan bertindak, coba fikirkan, sesuai tidak ini dengan Syariat? Seperti itu seterusnya ya nak”

“Iyaa Ibu” Jawab sang anak serempak

“karena sudah malam, ayoo kakak sama adek tidur, besok harus bangun pagi untuk sholat subuh, sebelum tidur berwudhu dulu, dan jangan lupa berdoa yaa”

Sekian, cerita khayalannya.. Semoga Bermanfaat...

By : Ana Dia Friska

Jumat, 25 September 2015

Jangan Berhenti Sebelum Allah Yang Menghentikannya



Jangan Berhenti Sebelum Allah Yang Menghentikannya

Pada saat aku ke pantai, setelah sekian lama tak ke pantai. Awalnya aku bingung untuk melepas sandal dan kaos kakiku karena jika ku buka maka aku berarti tak menutup aurat secara sempurna, hingga akhirnya aku tetap memakai sandal dan kaos kaki saat ke tepi pantai. Seperti dugaanku sandalku menjadi berat oleh pasir hingga sulit berjalan.Sehingga aku memutuskan untuk melepas sandalku dan menitipkannya ke warung dekat pantai sebelum kembali lagi untuk bermain di tepi pantai  namun aku tetap memakai kaos kakiku.

Lalu apa hubungannya kisah di atas dengan tulisanku kali ini??

Aku sampai di pantai itu pagi hari, sehingga cuaca belum begitu terasa panas. Apalagi begitu sampai ke pantai aku langsung menuju tepi pantai dan bermain air yang dingin. Hingga tak terasa bahwa hari semakin panas. Sampai suatu ketika, ketika aku akan kembali ke atas, menuju tempat penitipan barang, semakin ke atas ternyata pasir pantai semakin panas, panas sekali, apalagi posisiku yang hanya memakai kaos kaki, semakin terasa panas pasir itu. Aku mencoba untuk berlari agar cepat sampai dengan tujuanku, namun terasa jauh sekali, aku merasa sudah tidak kuat lagi menyentuh pasir yang panas ini, aku berhenti karena tak kuat berlari lagi. Tapi jika aku berhenti semakin terbakar kaki ini oleh panasnya pasir akibat teriknya matahari. Tapi jika aku terus berlari dan mau berusaha lebih keras lagi untuk mencapai tujuanku dan tujuan itu pasti akan terlihat semakin dekat walau kakiku harus kepanasan untuk beberapa saat. Berbeda ketika aku berhenti, tujuanku akan terus jauh tidak akan semakin dekat,dan justru aku akan terus merasa kepanasan, semakin kepanasan, hingga mungkin akan lelah dan pingsan di bawah teriknya matahari.

Hal ini, sama halnya seperti perjuangan kita dalam menegakkan hukum Allah, ketika kita terus bergerak maka lambat laun kita akan sampai pada tujuan kita, walau dalam perjalanan kita penuh aral rintang yang menghadang, penuh pengorbanan. Namun semua itu akan terbayarkan ketika kita telah sampai pada tujuan kita. Rasa haru, bahagia pasti akan menyelimuti kita dan kita pun akan lupa bahwa kita pernah sakit dalam perjalanan karena semua itu telah tergantikan oleh kebahagiaan yang kita dapatkan.

Berbeda halnya ketika kita diam saja, ketika hukum Allah dicampakkan, kita pasrah diatur oleh sistem kufur demokrasi. Akibat diam kita ini, maka hidup kita pasti akan semakin susah dan sengsara. Lambat laun kita akan membusuk karena diam kita. Di dunia saja kita sudah sengsara, bahkan kita juga belum tau bagaimana kita di akhirat akankah kita dihisab karena diam kita, saat Hukum Allah tak diterapkan, saat Agama yang di ridhoi Allah dihinakan.

Bukankah lebih baik hancur berkeping-keping karena bergerak, daripada membusuk karena diam.

Maka Teruslah Berjuang Jangan berhenti dan jangan menyerah sebelum Allah yang menghentikanmu dengan mencabut nyawamu.

By : Ana Dia Friska

Sabtu, 19 September 2015

Musibah Terbesar Umat Islam



Musibah Terbesar Umat Islam

 Salah satu keuntungan orang mukmin sekaligus rahmat bagi hamba yang lemah adalah, Allah menjadikan segala bentuk kesedihan, duka cita, atau kegelisahan yang mendera kehidupan sebahai penghapus dosa dari kesalahan yang pernah mereka lakukan.

Ketaatan adalah hasil usaha seorang hamba sesuai kehendak Allah. Sedangkan maksiat merupakan buah usaha seorang hamba setelah adanya ketetapan dan takdir Allah.

Allah swt, berfirman :
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mndapat petunjuk.” (QS. Al-Basqarah : 156-157)

Ketika membaca ayat ini, Umar bin Khathtab langsung menangis. Berkah Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang terkena musibah, malapetaka, dan bencana alam. Karena itulah dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang yang tertimpa musibah kemudian mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, maka pada saat itu Allah menuliskan pahala baginya.

Namun diantara musibah-musibah yang kita alami dan umat muslim alami saat ini. Sebelumya ada musibah yang lebih hebat lagi, yaitu wafatnya Rasulullah saw. Semoga rahmat dan kesejahteraan senantiasa dilimpahkan kepada beliau. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda : “ 
 Hendaklah Orang yang tertimpa musibah menjadikanku sebagai hiburannya, sebab aku adalah hiburan yang terbaik bagi setiap muslim.”

Setelah kerasullan, tak ada musibah yang lebih besar daripada wafatnya Rasulullah saw. Peristiwa besar ini jangan sampai membuat kita cemas dan gelisah. Kita harus sabar, saling menolong, dan saling menghibur sebagaimana yang dilakukan oleh sosok yang tegar Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dialah orang yang paling bisa mengendalikan emosi pada saat-saat yang sulit. Tepat disaat kekuatan orang-orang gagah macam Umar, layu. Ketika mereka menelungkupkan muka ke tanah, merasa ciut dan putus asa, Abu Bakar tetap tegar, inilah sosok yang dipersiapkan Rasulullah saw. Untuk menghadapi situasi demikian.

Kekuatan Umar melemah, padahal dialah orang yang paling berani. Umar naik ke atas mimbar sambil menghunus pedang dan berkata, “ Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, akan ku tebas lehernya dengan pedang ini! Beliau tidak meninggal, namun beliau diangkat ke langit dan akan berada disana selama 40 Malam, sebagaimana Musa berada bersama Tuhannya selama 40 malam!”

Beragam suara yang menyiratkan kesedihan bercampur baur, isak tangis juga semakin meninggi. Pada saat yang kritis itu, Abu Bakar tidak ada di tempat. Dia baru dating beberapa saat kemudian dengan menunggang kuda. Dia bergerak perlahan memecah kerumunan orang. Abu Bakar langsung masuk dan melihat Rasulullah saw. Yang sudah berbaring kaku diselimuti kain sementara jiwanya sudah diangkat ke hadirat Illahi. Sejurus kemudian, Abu Bakar mencium jasad Rasulullah saw. Tanpa sadar, air matanya menetes membasahi pipi. Dan kemudian berkata, “Engkau telah merasakan kematian yang telah ditetapkan untukmu. Demi Allah!! Setelah kematian ini, engkau tidak akan meninggal selama-lamanya.” Selesai mengucapkan kata-kata itu, Abu Bakar keluar menemui kerumunan orang banyak. Dengan tegar, dia naik ke mimbar dan berkata, “Ibnu Khaththab, duduklah!”

Mendengar pinta Abu Bakar itu, Umar pun langsung duduk. Sebab, Abu Bakar memang memiliki posisi yang lebih tinggi dan agung dalam agama Islam.

Dengan tenang dan penuh wibawa, Abu Bakar lantas berkata, “ Saudara-saudara sekalian! Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal, dan siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah hidup kekal dan tidak mati.”

Allah swt, berfirman :
“Muhammad itu tidak lain hanyalah Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat dan dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali-Imran:144)

Ketika mendengar seruan ini, Umar bin Khaththab langsung menundukkan muka dan berkata, “Demi Allah seolah aku baru saja mendengar ayat ini sekarang.”

Diambil dari Buku : Jangan Salahkan Tuhan
Penulis : Achmad Sunarto

Sumber :  http://gaulfresh.com/kisah/musibah-terbesar-umat-islam

By : Ana Dia Friska 

Untukmu Ibu




Untukmu Ibu
 
Ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya. Namun apa jadinya, ketika Ibu pada zaman sekarang lebih mementingkan karir dengan bekerja diperusahaan atau bahkan diluar negeri hingga menelantarkan, akh tidak, bukan menelantarkan, terlalu kasar, tapi menitipkan anak-anaknya entah itu pada keluarga atau babysister atau pembantu atau asisten rumah tangga.

Ini adalah sebuah catatan kecil yang dibuat oleh seorang anak  mewakili teman-teman yang ditinggal ibunya bekerja,…

 Untukmu  Ibu
Ibu andaikan engkau tahu, kami anak-anakmu, lebih membutuhkan kasih-sayangmu, peluk cium darimu, nasihat-nasihat darimu, daripada setumpuk uang, atau mainan yang banyak.

Ibu bukankah engkau tahu, bahwa surga berada di bawah telapak kaki Ibu, seperti sabda Rasulullah saw :
“Hendaklah engkau tetap berbakti kepada ibu, karena Surga berada ada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. Ath-Thabrani dan an-Nasai)

Ibu kami anakmu selalu berusaha positif thinking bahwa engkau bekerja untuk masa depan kami, demi kesejahteraan keluarga kita, agar kami menjadi anak yang sukses dan lebih baik darimu. Tapi Ibu jauh dari lubuk hati kami, kami begitu merindukanmu, kami ingin bercanda denganmu, kami ingin menceritakan segala kegiatan kami padamu. Terkadang kami iri melihat teman-teman kami dapat bermanja-manja pada ibu-ibu mereka, dimarahi ketika berbuat salah, mendapat pelukkan ketika berbuat baik. Ibu, kamipun menginginkan yang seperti itu.

Kami anakmu, takut Ibu, ketika kelak engkau tua renta. Kami enggan untuk merawatmu. Hingga menitipkanmu pada panti jompo atau pembantu. Seperti yang engkau lakukan pada kami sekarang ini. Semoga tidak ya bu…

Memang sulit ibu, kami tak sepenuhnya menyalahkanmu karena telah meninggalkan kami. Ini semua terjadi karena kebrobokkan sistem yang ada pada zaman ini. Yang beranggapan tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, yang menganggap kehidupan akan bahagia jika banyak uang. Ketahuilah Ibu kebahagiaan kami adalah ketika kita dapat berkumpul bersama.

Ibu, engkau tetap Ibuku, yang telah mengandung, melahirkan, dan menyusuiku. Kami tetap mencintai dan menyayangimu. Kami akan terus menunggu engkau pulang, untuk bermain bersama kami, belajar bersama kami, biarlah hanya ayah yang bekerja, karena kewajiban mencari nafkah itu ayah. Kewajiban ibu adalah menjadi ibu dan mengurus rumah tangga. Bekerja untuk ibu hukumnya mubah ibu.

Dari anakmu

 Islam menetapkan dua peran penting perempuan, yaitu sebagai ibu dan pengelola rumah. Dalam Muqaddimah Dustur bab ”Nizham al-Ijtima’i” dinyatakan: “Hukum asal seorang wanita dalam Islam adalah ibu bagi anak-anak dan pengelola rumah suaminya. Ia adalah kehormatan yang wajib dijaga.”

Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi para buah hatinya. Ibu adalah peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak. Ibu mempersiapkan anak menjadi generasi pejuang Islam, Mujahid dan Mujahidah. Maka sudah seharusnya seorang Ibu haruslah pintar. Bersekolah tinggi bukanlah untuk mencari pekerjaan tetapi menyiapkan ilmu untuk diajarkan pada anak-anaknya kelak.

 Yuk Belajar menjadi Ummu Ideologis

Sumber :  http://gaulfresh.com/kisah/untukmu-ibu-2

Ana Dia Friska ( Kontributor Gaul Fresh)